Telah lama saya tidak pulang ke Wonogiri, persisnya di
teritori Baturetno, kampung halaman Bapak. Umumnya saya serta keluarga mudik
setahun sekali kesana untuk melepas kangen berjumpa sanak famili.
Tahun ini, sebab ada larangan mudik dari pemerintah buat
menahan penebaran virus corona, saya serta keluarga menangguhkan kemauan untuk
berkunjung ke Wonogiri. Tunda keberangkatan sampai keadaan kembali lagi aman.
Sebab belum dapat bertegur sapa dengan cara langsung dengan
beberapa saudara di Wonogiri, pada akhirnya pembicaraan berjalan melalui video
call. Kami bercakap ngalor-ngidul. Semakin jumlahnya bergurau sekalian
nostalgia. Hingga kemudian salah satunya saudara menanyakan pada saya.
"Mas Seto, inget tidak kamu sempat dikejar sapi waktu
kesini (Wonogiri) kelas 2 SD?"
Alamak. Benar, saya sempat dikejar sapi waktu kelas 2 SD.
Apesnya kok mereka masih ingat peristiwa saya dikejar sapi. Benar-benar
pengalaman mendebarkan sekaligus juga aib yang membuat malu buat saya. Ya,
meskipun ada lucunya , sich.
Ini ceritanya.
Setiap kali bertandang ke Wonogiri, saya hampir tetap tidak
menyiakan peluang untuk eksplor sekitar rumah simbok, panggilan saya pada
nenek. Tempatnya demikian sunyi serta banyak tempat bermain. Entahlah kebun,
bukit, atau bertandang ke kebun. Walau populer panas serta gersang, minim curah
hujan, tanah di Wonogiri termasuk subur. Sebab cuaca yang termasuk panas serta
di dalam rumah simbok tidak ada kulkas, saya kesusahan untuk minum air dingin
yang tentu berasa beri kesegaran saat melalui kerongkongan di cuaca panas
Wonogiri.
Saat itu, pada akhirnya saya putuskan untuk ke warung yang
jaraknya beberapa ratus mtr. dari rumah simbok untuk beli es teh serta batu es.
Saya pergi dengan dua saudara saya. Kami pergi mendekati magrib, sependek daya
ingat saya, kira-kira 17.45. Langit telah beralih warna jadi oren serta
terlihat cerah.
Baca : Tipologi Kesibukan Anak-Anak di Bulan RamadanIbu
pernah memperingatkan kami tidak untuk pergi mendekati maghrib. Ibu katakan
bahaya, pamali. Seringkali berlangsung hal yang tidak diharapkan bila
memaksakan pergi mendekati magrib. Kami meremehkan saran Ibu serta tetep kekeuh
untuk ke warung. Untuk sebongkah batu es, jajanan yang lain.
Setelah tiba di warung, kami langsung beli jajanan yang
diharapkan. Tetapi kemudian, bukanlah langsung pulang, kami justru bertandang
ke kandang sapi yang berada di samping warung. Sebab ada banyak pangan sapi,
kami justru iseng memberikan makan terlebih dulu, walau sebenarnya langit telah
makin gelap. Serta, di sejumlah musala, azan Magrib telah berkemandang.
Nampak beberapa masyarakat masih ada di luar serta teras
rumah semasing. Ada yang masih tetap santai, ada juga yang bergegas salat
Magrib.
Sesudah berasa cukup, kami langsung membelakangi kandang
sapi itu serta berjalan ke arah rumah.
Tidak lama, saya dengar seorang masyarakat berteriak,
"MAS! AWAS DI BELAKANGMU ADA SAPI!"
Saat saya melihat mengarah belakang, sapi sedang lari
mengarah saya. Dua saudara saya langsung menghindar, pada kondisi cemas, saya
lari di garis lurus. Secepat kilat, sedapat mungkin menghindar dari sundulan
sapi. Saya dikejar cukup jauh. Buat saya yang saat itu masih 2 SD, insiden itu
buat takut 1/2 mampus.
Pada akhirnya, sapi yang memburu saya menyerah. Semakin
persisnya sukses diamankan kembali lagi oleh pemiliknya, yang rupanya lari
secara cepat memburu sapi. Dua saudara saya ketawa terpingkal-pingkal lalu
mengatakan, "Untuk anak kelas 2 SD, larimu cepet buanget!" sesudah
mengatakan demikian, mereka meneruskan lagi tawa mereka. Bajingan, memang.
Beberapa masyarakat yang berada di luar juga ketawa
terpingkal-pingkal. Adegan saya yang dikejar sapi seolah jadi selingan tertentu
buat mereka. Saya masih ingat, beberapa dari mereka berteriak dari jauh,
"Mangkanya, jika ingin main sapi, jangan gunakan kaos merah, Mas! Sapinya
jadi geram!"
Baca : Rayakan Hari yang Fitri di WonogiriMemang, saat itu
saya sedang menggunakan kaos berwarna merah. Walau saya masih kecil, tetapi, saya
ketahui benar mana sapi serta mana banteng. Hewan mana yang akan agresif saat
lihat suatu hal berwarna merah.
Atau, kemungkinan benar mitos yang dikatakan oleh Ibu?
Jangan keluar di saat maghrib (terkecuali ingin salat di musala/masjid), kelak
bisa-bisa justru alami insiden yang tidak disangka. Hadeeeh. Entahlah. Yang
pasti saya kapok. Tidak mau lagi dikejar sapi. Lelah, malu, serta buat pegel
kaki!
